Desa Duwet, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten 57466, telp 0272 3166005
Welcome
image

Desa Wisata Soran

0272 3166005, 085643902022


Alamat : Desa Duwet, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten
Potensi Wisata : Wayang Kulit, seni tari, gejog lesung, karawitan, campursari, keroncong, jathilan, batik, dunia pertanian, industri emping garut, sapu dan sulak, soon, genting, candi, batu nganten

Profil kepariwisataan di desa Duwet (desa wisata Soran)



A.    Profil Umum Desa
A.1. Sejarah Ringkas Desa Duwet

A.2. Kondisi Fisik Dan Lingkungan Desa
Secara administrative desa Duwet berbatasan dengan:  sebelah barat dengan desa Demakijo,  kecamatan karangnongko; sebelah selatan berbatasan dengan desa Ngrundul kecamatan Kebonarum; dan sebelah utara berbatasan dengan salah satu dusun yang secara administrative masuk desa Mranggen kecamatan Jatinom, sebelah timur dengan desa Gatak, dan desa Manjung, kecamatan Ngawen.
Desa Duwet terdiri dari 6 Rukun Warga (RW), 15 Rukun Tangga (RT) yang terletak di dusun Josuman, Kopek, Soran, Mangsuran, Duwet, Salamrejo yang dikoordinir oleh 2 kepala dusun. Luas wilayah desa 94,18 ha yang terbagi untuk lahan sawah 61,5 ha, tegalan 2,5 ha dan lainnya untuk pemukiman dan fasilitas umum seperti kuburan, sekolah, bali desa. Desa ini dihuni 2101  jiwa penduduk, laki – laki 992, perempuan 1109. Daerah yang mempunyai ketinggian 158 meter diatas permukaan air laut curah hujannya rata – rata 1082 mm/tahun dengan suhu rata – rata 32 derajat celcius.
A.3. Peta Sebaran Sumber Daya
A.3.1. Sumber Daya Alam
Sebagai lahan pertanian wilayah ini didukung oleh sumber mata air dari sumber “Gendruwo”, Gotong – Royong, Nyamplung, Ndoyo, Pace, Kroman, dan Karan. Sumber terbesar di wilayah Kroman,  Yaitu bendungan yang dibuat pada jaman penjajahan Belanda. Bendungan ini masih terawat oleh kelompok tani di sebelah timur dusun Soran. Keberadaan bendungan ini secara administratif masuk di dusun kroman, desa Mranggen, kecamatan jatinom. Bendungan ini dimanfaatkan untuk mengairi lahan di desa Duwet dan dan desa Gatak. Sejalan dengan menyusutnya debit air dan tidak terawatnya jaringan irigasi di dukuh Soran dan jaringan irigasi di sawah sebelah timur dukuh Soran aliran irigasi menjadi tidak lancar. Tidak terawatnya ini didukung perubahan lahan pertanian padi di sebelah timur dukuh Soran menjadi pertanian lahan kering akibat proses pembuatan batu – bata yang berlebihan sehingga kehilangan proses penataan lahan pertanian.
Sedangkan sumber air gendruwo dan gotong royong menyumbang air untuk lahan di sebelah timur dan selatan dukuh mangsuran, sebelah selatan dukuh Soran dan sebelah utara dukuh duwet. Sedangkan sumber nyamplung menyumbang untuk keperluan rumah tangga seperti mandi dan cuci penduduk dukuh Duwet karena air dari sumber tersebut masuk aliran sungai besar yang berada di sebelah barat dukuh Duwet.
Lahan di desa Duwet 30 % digunakan untuk perumahan dan fasilitas umum seperti makam, lapangan sepak bola. Sedangkan yang 60 % sebagai lahan produktif yang digunakan untuk pertanian dan industry batu bata. Dari 60% lahan produktif tersebut 10 % berupa tegalan, 20 % berubah dari daerah irigasi teknis menjadi daerah non teknis karena tidak terpeliharanya aliran irigasi semenjak menjadi lahan pembuatan batu bata. 30% nya masih bisa dapat dimanfaatkan untuk aliran irigasi teknis meskipun luasan lahannya semakin berkurang karena factor menurunnya ketersediaan air.
Tabel 1
Sumber Air dan Pemanfaatannya

No    Nama Sumber    Lokasi    Pemanfaat
1    Sendang    Jasuman    Sudah tidak ada airnya
2    Gendruwo    Selatan Josuman    Mandi dan Cuci penduduk Josuman, sawah di barat Soran
3    Gotong Royong    Selatan Ngemplak    Mandi dan cuci penduduk Ngemplak, sawah di barat Soran
4    Sungai Karan    Demangan    Sawah utara Duwet dan selatan Mangsuran
5    Ndoyo    Selatan Soran    Mandi dan cuci penduduk Soran, sawah bengkok dekat sumber
6    Pace    Mangsuran    Sawah di duwet, mandi dan cuci penduduk Mangsuran
7    Nyamplung    Duwet    Mandi dan Cuci penduduk Duwet, sawah selatan dusun Duwet
8    Bendungan Kroman    Kroman    Sawah timur Soran, sawah desa Gatak
Sumber : diolah dari data primer 2008

Tanaman yang dikembangkan di lahan pertanian tanaman padi untuk wilayah irigasi teknis di utara dukuh Duwet dan selatan dukuh Soran, selatan Dukuh Mangsuran, sebelah barat desa Gatak. Tebu dikembangkan di sebelah timur dan utara dukuh soran. Jagung dan kacang tanah dikembangkan di sebelah timur dukuh soran dan sebagian daerah irigasi jika menginjak musim kemarau. Selain itu juga dikembangkan tanaman ketela pohon dan ketela rambat meskipun hanya sebagai tanaman sela.
Untuk wilayah lahan pekarangan dikembangkan tanaman buah seperti mangga, rambutan, pisang, kelapa, mulai juga tanaman empon – empon. Lahan pekarangan belum dipakai sebagai sumber ekonomi yang lebih produktif sehingga tidak dikelola dengan baik.
A.3.2. Sumber Daya Manusia
Jumlah penduduk desa Duwet 2101 jiwa dengan komposisi 1109 perempuan dan 992 laki – laki. 60%nya tergolong sebagai penduduk yang produktif dan 40%nya terdiri dari anak – anak dan orang tua yang masuk golongan sudah tidak produktif.
Tingkat pendidikan penduduk rata – rata lulusan SLTA ini sudah mengalami peningkatan dibanding dekade tahun sebelumnya. Untuk generasi yang tua rata – rata menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SLTP. Untuk generasi yang mampu menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi akirnya banyak yang keluar daerah dengan alasan menikah dan sumber ekonomi yang lebih baik.
80% penduduk bekerja pada sektor pertanian dan buruh tenaga lepas. 20%nya di sektor industri rumah tangga, PNS, TNI/Polri, pedagang. Dari 80 % penduduk yang bekerja di sektor pertanian hanya 25 % sebagai pemilik tanah.
A.3.3. Sumberdaya Sosial Budaya
Arisan tingkat RT (Rukun Tangga) dan kegiatan di tingkat RW (Rukun Warga) yang disertai kegiatan simpan pinjam dengan bunga rata-rata 3 % per selapan (35 hari). Kegiatan pertemuan ditiap RT diikuti oleh laki – laki pada waktu malam hari sedangkan perempuan dilakukan di siang hari. Pertemuan rutin ini digunakan untuk membangun silaturahmi diantara warga di RT tersebut, juga kegiatan ini untuk memecahkan berbagai permasalahan maupun arus informasi yang berkaitan dengan warga RT setempat.
Kelompok tani di desa Duwet terbagi menjadi 2 kelompok dan beberapa kelompok hamparan untuk koordinasi. Sedangkan di tingkat desa di bangun kelompok tani yang merupakan gabungan kelompok – kelompok yang ada di desa Duwet (Gapoktan).
Kelompok Yasinan dilakukan setiap malam Jum’at di dusun Josuman, Soran dan Duwet. Pertemuan ini utamanya masih berfungsi sebagai tempat silaturahmi warga dan membahas persoalan agama.
Doa bersama setiap malam minggu bagi warga yang beragama katolik. Pertemuan ini dilakukan secara bergiliran tempat berguna untuk mempererat persaudaraan dan memecahkan permasalahan hidup dari tinjauan iman
Gotong-royong (sambatan) biasanya gotong-royong dilakukan pada saat ada warga yang membuat rumah, punya hajat, layatan (orang meninggal), mengerjakan lahan pertanian, membersikan lingkungan dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa rasa setia-kawan (solidaritas) antar warga masih terus dijaga. Meskipun dalam perkembangannya dirasakan semakin menurun.
Posyandu terbagi menjadi 3 lokasi yaitu di dukuh Duwet satu tempat, Soran, Mangsuran dan Salamrejo satu tempat dan Jasuman satu tempat. Kegiatan ini dilakukan setiap selapan (35 hari) untuk melayani pemeriksaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui dan BALITA. Kegiatan dalam posyandu adalah penimbangan BB, imunisasi, pengisian KMS dan pemberian makanan tambahan (PMT) bagi BALITA.
Ada 15 kader perempuan, yang terbagi menjadi 3 lokasi posyandu untuk mengurusi kegiatan posyandu yang melayani + 157 BALITA . Dalam memberikan pelayanan di posyandu kader didamping oleh tenaga medis dari dinas kesehatan (bidan desa).
Ada 3 (tiga) tempat pendidikan (TK – Taman Kanak –Kanak) 2 (dua) berada di dukuh Soran, dan dan 1 (satu) di dukuh Duwet. Sekolah ini di bawah naungan 1 Yayasan Soran, 2 di bawah koordinasi Lembaga Muhammadiyah.
Di Desa Duwet juga ada Sekolah Dasar Negeri 1 yang diharapkan dapat menampung lulusan TK yang akan melanjutkan studinya. Desa Duwet pernah mendapat bantuan pendirian sekolah yaitu SD Inpers sebagai langkah menambah daya tampung untuk anak – anak yang akan masuk SD yang jumlahnya cukup banyak. Seiring dengan perkembangan jumlah murid di SD inpers semakin menurun dari tahun – ke tahun sehingga sampai pada keputusan penggabungan sekolah ke SDN Duwet 1.
Setiap dukuh di desa Duwet memiliki paguyuban pemuda atau yang sering disebut muda – mudi kampung. Mereka bergabung untuk kerja – kerja sosial kemasyarakatan seperti membantu saat ada hajatan, ada kematian dan kerja – kerja kebersihan desa. Untuk di tingkat desa ada karang taruna yaitu gabungan dari paguyuban pemuda kampung, Forum Komunikasi Pemuda Duwet (FKPD) yaitu farum untuk membangun komunikasi diantara pemuda yang ada di desa duwet terutama kerja – kerja memecahkan masalah atau isu – isu didesa.
Kelompok Kesenian di desa Duwet yang pernah ada  seperti kegiatan seni tari, ketoprak, karawitan, reog, tetapi sekarang kegiatan tersebut terlupakan. Di dukuh Soran ada pedalangan yang menjadi cerminan pedalangan Surakarta pernah dikembangkan seni ukir wayang kulit, bahkan ukir ini merembet kepada ukir kayu. Selain itu ada kelompok campursari yang merupakan gabungan dari pemuda di kampung.
Ada potensi yang masih terpendam yaitu seni lukis. Ada beberapa pemuda yang menguasai kegiatan seni lukis ini yang belum dikembang.
A.3.4. Sumberdaya Ekonomi
A.3.4.1. Pertanian
•    Desa Duwet merupakan salah satu desa  80 % mengandalkan sumber ekonomi keluarganya dari sector pertanian tanaman pangan di sawah seperti padi, kacang tanah, jagung, polowijo, ketela pohon.
•    Selain disawah peternakan juga menjadi pendukung sumber pendapatan keluarga seperti ayam kampung, bebek, sapi, kambing, kelinci, Burung puyuh.
•    Dilahan pekarangan mulai digalakkan tanaman empon – empon meskipun secara ekonomi belum dapat diperhitungkan. Selain itu pekarangan juga menghasilkan buah – buahan meskipun sangat kecil sebagai penopang pendapatan.
A.3.4.2. Industri Rumah Tangga
•    Pembuatan batu bata merah. Lokasi kegiatan ini berada pada tanah – tanah pertanian pangan sebelah selatan Mangsuran, sebelah timur Soran, utara Duwet. Industry pembuatan batu bata ini bermula hanya dilakukan satu dua orang. Sejalan dengan situasi ekonomi dan pengangguran yang semakin banyak mulai tumbuh kegiatan pembuatan batu bata. Apalagi hasil pertanian tidak sebanding dengan kenaikan di sector industry. Maka kegiatan pembuatan batu bata ini semakin besar. Mereka para pembuat batu bata menyewa dari pemilik tanah. Kerjaan pembuatan batu bata dilakukan oleh keluarga (bapak, Ibu dan anak) ada juga yang buruh membuat dan mendapat upah dari penyewa tanah.
•    Pembuatan telur asin, pembuatan sulak, rengginan dari ketela pohon, merupakan industry kecil rumahan yang dikerjakan oleh keluarga. Rata – rata pekerja setiap keluarga 2 – 5 orang.
•    Soon merupakan mie yang terbuat dari bahan baku pati ganyong atau onggok. Untuk membuat industry mie dibutuhkan lahan penjemuran. Proses pembuatan sampai menjadi soon yang siap dijual memerlukan tahapan atau pengerjaan. Sehingga ini tenaga yang dibutuhkan lebih banyak. Untuk penjualan lebih banyak di wilayah Jawa Timur.
•    Pembuatan emping garut. Kegiatan ini dilakukan setiap musim panen sekitar Agustus – September.
•    Pembuatan Sulak dan Sapu. Yaitu dengan memanfaatkan bulu ayam yang kemudian dirangkai menjadi alat pembersih seperti sulak.
•    Pengolahan pangan. Beberapa penduduk menekuni pengolahan pangan dengan menerima pesanan – pesanan untuk suguhan dalam penyelenggaraan acara hajatan misalnya.
A.3.4.3. Jasa dan Perdagangan
•    Warungan kelontong hampir di tiap dusun ada ; warung makan ada 1 di dusun Soran dan 1 di dusun Mangsuran
•    1 huller yang berguna untuk prosesing gabah menjadi beras berada di dukuh Soran ini didukung oleh 2 penebas di dukuh Soran
•    Cetak dan Video Shooting berada di dukuh Soran
•    Bengkel Motor di dukuh Duwet, Soran dan Josuman
•    Pertukangan
A.3.4.4. Permodalan
Sebagai sumber keuangan untuk mendukung permodalan di Desa duwet, ada beberapa sumber yang bisa diakses oleh masyarakat yaitu berasal dari simpan pinjam di tiap RT/RW, Keagamaan, BRI unit, Koperasi Soran Mandiri, BPD, Unit perkreditan dari program PNPM, perorangan.
A.4. Infrastruktur Dan Fasilitas Umum
Fasilitas umum yang ada di desa Duwet 1 puskesmas pembantu, 1 gedung sekolah dasar, 3 gedung TK, balai desa, lapangan sepak bola, lapangan bola volly, 3 masjid, 1 pura
Jalan yang ada termasuk jalan desa dan jalan yang menghubungkan antar kampung berupa tanah ; sebelah utara dukuh soran yang menghubungkan dengan dukuh Josuman lebar 3 m panjang 100 m, sebelah selatan dukuh Mangsuran ada 2 jalur dengan leber 5 m panjang 1250 m sudah di makadam, lebar 4 m panjang 1250 m dalam keadaan kondisi rusak hanya dapat dilalui kendaraan roda dua. Sedangkan jalan yang pernah di aspal atau plester yaitu yang menghubungkan dukuh Soran dan Duwet dengan lebar 4 m panjang 500 m kondisinya 50 % rusak. Sedangkan jalan yang membelah desa merupakan jalan yang menghubungkan atau dilalui ketika mau ke kota klaten lebar 5 m panjang 3000 m kondisinya 40 % rusak.
Untuk menjaga jalan agar tidak longsor ada beberapa lokasi yang sudah di talut. Hal ini karena letak permukaan jalan dengan sawah sangat jauh sehingga dimungkinkan mudah longsor. Lokasi yang sudah di talut utara Dukuh Duwet, timur dukuh Mangsuran, sebagian timur dukuh Soran.
A.5. Tata Guna Lahan
Lahan di desa Duwet digunakan untuk pertanian terutama padi, polowijo. Untuk lokasi padi dapat ditanam 3 kali dalam satu tahun berada di sebelah barat dukuh soran dan sebagian di selatan dukuh soran. Hal berkaitan dengan keberadaan jumlah air. Untuk wilayah sebelah timur justru berubah menjadi daerah tanah kering yang akirnya di Tanami untuk tebu dan tanaman lahan kering. Semenjak wilayah tersebut di pakai untuk bahan dasar pembuatan batu bata maka tanah tersebut menjadi kehilangan humus dan kemampuan untuk menyimpan air dalam tanah, sehingga lahan atau kondisi fisik lahan tidak diperhatikan lagi dalam penataannya.
A.6. Organisasi Dan Kelembagaan Sosial Politik
A.6.1. Organisasi Kepemudaan
Pemuda dan pelajar setiap dusun terwadahi yang namanya muda – mudi kampung. Paguyuban ini lebih terasa dalam bentuk ikatan – ikatan kerja social kemasyarakatan seperti membantu kerja – kerja bagi yang punya “gawe”. Ada kematian, bersih – bersih kampung dan lainnya. Selain kegiatan social para pemuda juga pernah merintis kegiatan yang lebih produktif dan dapat memberikan ruang pekerjaan bagi para pemuda di kampung tersebut. Meminta tanah kas desa untuk memelihara ikan, pembentukan koperasi pemuda di dukuh soran. Untuk kegiatan kepemudaan di tingkat desa ada kelompok pemuda yang namanya karangtaruna, Forum Komunikasi Pemuda Duwet (FKPD). Selain itu masih ada kelompok pemuda keagamaan seperti Remaja Islam Soran, Remaja Islam Jasuman, Remaja Islam Duwet, Muda – mudi Katolik
A.6.2 Kelompok Tani
Di Desa Duwet Terbagi Menjadi 2 kelompok tani dan 3 kelompok hamparan. Sedangkan di tingkat desa di bentuk kelompok tani gabungan (GAPOKTAN). Kelompok tani ini bergerak dalam kerja – kerja pertanian seperti pengaturan pola tanam, pengaturan air dan saluran irigasi. Petani yang rata – rata berusia tua ini terkesan kelompok berjalan apa adanya tidak banyak sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan pertanian. Pertemuan secara rutin dilakukan setiap bulannya hanya lebih banyak mendapat masukan dari PPL.
A.6.3. Koperasi Soran Mandiri
Di Dukuh Soran Juga sudah terbentuk sebuah koperasi yang dinamakan koperasi “Soran Mandiri” yang anggotanya sekitar dukuh soran. Kegiatan yang berjalan saat ini simpan pinjam diantara anggota. Koperasi ini pernah merintis kegiatan di perdagangan yaitu untuk menyediakan alat – alat atau bahan – bahan untuk menunjang kegiatan para anggotannya. Dalam perkembangannya kegiatan ini tidak bias berjalandan terkelola dengan serius.
A.6.4. Paguyuban Kekerabatan
Paguyuban ini didasarkan atas trah atau keturunan, jadi keanggotaannya tidak hanya berada di desa Duwet. Kegiatan paguyuban ini lebih mengarah pada membangun kedekatan dan hubungan persaudaraan diantara trah tidak terlepas. Di desa Duwet ini ada sekitar 8 trah yang mendiami desa ini. Sedangkan paguyuban yang berjalan sekitar 2 trah.

B.    Potensi Wisata
B.1. Daya Tarik Wisata Alam
Potensi yang menarik dari kondisi alam di desa Duwet berada pada :
•    Situasi alam pedesaan
•    Desa Duwet merupakan daerah perbatasan dari 4 kecamatan dan di belah oleh sungai yang bersumber dari pecahan anakan sungai dari lereng merapi
•    Daerah Pertanian dengan berbagai tanaman seperti padi, jagung, sayuran, tebu, kacang tanah, ketela, tebu.
•    Lingkungan Industri Rumah Tangga
B.2. Daya Tarik Wisata Budaya dan Kerajinan
Ada beberapa situs budaya yang menjadi perhatian Dewi Soran dan belum terawat dengan baik seperti : Candi Merak merupakan salah satu peninggalan jaman Hindu lebih kurang 3 km dari Soran yang berada di desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten ; di dusun Josuman ada “sendang” yang merupakan sumber air  bagi sawah di desa Duwet yang juga tidak terawat sehingga candi di sendang ini hilang di curi orang ; Di Mangsuran ada “Watu Nganten”, menurut cerita bahwa jaman dulu tempat ini dipakai sebagai penyerahan temanten kepada Tuhan sebagai ucapan syukur dan minta berkah agar selama perkawinan dapat berjalan langgeng ; “soropadan” yaitu lahan seluas lebih kurang 3 ha yang dianggap daerah wingit dan tidak ada penghuninya, menurut cerita jaman pertempuran dengan Belanda daerah ini tempat menyerahkan jiwa bagi tanah air, asal kata dari “sorohbadan” (menyerahkan jiwa) ;rumah – rumah adat jawa model joglo kampong.
Seni pedalangan / wayang kulit yang ada di dusun Soran menjadi acuan bagi perkembangan pedalangan Surakarta, bahkan sering juga bertandang keluar negeri seperti Jepang. Tempat ini juga pernah menjadi pentas dalang luar negeri yang belajar di Indonesia. Wayang sebagai bentuk budaya yang mempunyai nilai seni tinggi. Selain sebagai seni budaya juga dikembangkan produk ukiran wayang kulit maupun bahan baku kayu.
Ada beberapa seni dan dolanan anak yang perlu mendapat perhatian serius karena merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya bagi perkembangan kebudayaan masyarakat. Ada seni lukis, seni tari, ketoprak, karawitan anak, keroncong dan campursari, gejog lesung, jatilan, reog, wayang wahyu atau wayang suket merupakan bentuk seni budaya yang ada dimasyarakat. Dolanan anak yang ada “bentik”, jamuran, kelereng, gangsing, sembunyi – sembunyian, tayaran, jetungan, dakon, sudamanda, betengan, dll. Permainan ini semakin hari semakin hilang dari permainan harian anak – anak jaman sekarang. Model permainan ini banyak mengandung ajaran bagi anak – anak untuk pendidikan mental, keberanian, kekompakan, saling tolong – menolong.
Pada bulan Jawa ada bulan “Besar” yang merupakan bulan untuk ruwatan bumi di dusun Soran. Setiap bulan tersebut diadakan wayang kulit dengan lakon “brontoyudo”. Selain itu ada tradisi “suran” di dusun Duwet dan Josuman juga ada ruwatan dengan mengadakan wayang kulit. Sedangkan setiap tahun ada budaya ”sadranan” di dusun Soran dan Mangsuran dengan acara kenduri besar yang mengumpulkan semua masyarakat di dusun tersebut baik anak – anak, pemuda, orang tua, laki maupun perempuan semua berkumpul untuk mengadakan pesta bumi / kenduri besar. Semua warga mengucapkan syukur kepada Tuhan sang pencipta atas kehidupan ini yang dilanjutkan dengan makan bersama dari makanan yang disediakan saat kenduri tersebut.
Sanggar Anak Merdeka merupakan salah satu sanggar di Soran yang diharapkan mampu mengupayakan “harta” peninggalan berupa permainan anak maupun budaya – budaya bagi pengembangan anak. Sanggar ini pernah mendapat bantuan berupa buku bacaan untuk melengkapai perpustakaannya. Setiap hari anak yang berkumpul untuk bermain rata – rata 25 orang. Kegiatan sanggar belum dikelola dengan serius karena kekurangan fasilitas pendukungnya dan tenaga sukarelawan.
B.3. Dukungan Terhadap Desa Wisata Lain
Dukungan terhadap desa wisata lain disekitar desa Duwet berupa lokasi industri rumah tangga seperti industri soon, indutri wayang kayu, sulak dan sapu, penyediaan fasilitas hiburan dan kesenian.
B.4. Dukungan Terhadap Industri Pariwisata
Ada beberapa dukungan pengembangan industri pariwisata yaitu sablon dan Video Shooting, fasilitas sarana hiburan, kerajinan tangan, alat transportasi (mobil, andong, sepeda, motor)
C.    Sarana Prasarana Kepariwisataan
Sarana dan prasarana penunjang seperti jalan, sanitasi lingkungan dan penataan rumah sebagai home stay di desa penting untuk dilakukan sebagai upaya mendukung bagi kehidupan masyarakat.
Pengembangan media seperti audio visual dan cetak menjadi sarana yang dapat membantu bagi dokumentasi dan penyebaran informasi yang memadahi bagi pengembangan Desa Wisata di Desa Duwet beserta potensi – potensinya. Dengan keberadaan media akan dapat mendukung lebih cepat perkembangan masyarakat dengan potensinya dan dapat membangun jaringan dengan yang lain.
D.    Kegiatan Perekonomian dibidang Pariwisata
Dulu masyarakat banyak mengenal makanan – makanan local yang berkembang di desa. Sejalan dengan perkembangan jaman dan arus globalisasi banyak jenis makanan – makanan tradisional dan bahan – bahan baku untuk membuatnya hilang dari peredaran. Dengan peranan media terutama televisi yang tiap hari menyiarkan hasil – hasil makanan pabrikan menjadikan hilangnya gairah masyarakat terhadap pelestarian makanan – makanan tradisional. Sejalan perkembangan pertanian lahan – lahan pertanian berubah menjadi lahan industry batu bata, sehingga lahan – lahan bekas pembuatan batu bata menjadi rusak. Sebagai langkah perbaikan perhatian pada peternakan dan pertanian ramah lingkungan harus diupayakan untuk mengembalikan kesuburan lahan pertanian. Sector pertanian ini diharapkan mampu menopang bahan baku pengembangan industry rumah tangga sebagai dukungan pengembangan potensi pariwisata.

Cek Nama Domain

Check Domain Name ?

Artikel Terbaru
Kategori
Arsip

Komentar Terbaru
Copyright © 2017 www.dewisoran.com · All Rights Reserved